1.
Hakikat Perpustakaan Digital
Perpustakaan Digital adalah sebuah sistem yang
memiliki berbagai layanan dan obyek informasi yang mendukung akses obyek
informasi tesebut melalui perangkat digital (Sismanto, 2008). Layanan ini
diharapkan dapat mempermudah pencarian informasi didalam koleksi obyek
informasi seperti dokumen, gambar dan database dalam format digital dengan
cepat, tepat, dan akurat. Perpustakaan digital itu tidak berdiri sendiri,
melainkan terkait dengan sumber-sumber lain dan pelayanan informasinya terbuka
bagi pengguna di seluruh dunia. Koleksi perpustakaan digital tidaklah terbatas
pada dokumen elektronik pengganti bentuk cetak saja, ruang lingkup koleksinya
malah sampai pada artefak digital yang tidak bisa digantikan dalam bentuk
tercetak. Koleksi menekankan pada isi informasi, jenisnya dari dokumen
tradisional sampai hasil penelusuran. Perpustakaan ini melayani mesin, manajer
informasi, dan pemakai informasi. Semuanya ini demi mendukung manajemen
koleksi, menyimpan, pelayanan bantuan penelusuran informasi. Lesk (dalam
Pendit, 2007) memandang perpustakaan digital secara sangat umum sebagai
semanat-mata kumpulan informasi digital yang tertata. Arms (dalam Pendit, 2000)
memperluas sedikitnya dengan menambahkan bahwa koleksi tersebut disediakan
sebagai jasa dengan memanfaatkan jaringan informasi.
Sismanto (2008) juga mengungkapkan bahwa gagasan
perpustakaan digital ini diikuti Kantor Kementerian Riset dan Teknologi dengan
program Perpustakaan Digital yang diarahkan memberi kemudahan akses dokumentasi
data ilmiah dan teknologi dalam bentuk digital secara terpadu dan lebih
dinamis. Upaya ini dilaksanakan untuk mendokumentasikan berbagai produk
intelektual seperti tesis, disertasi, laporan penelitian, dan juga publikasi
kebijakan. Kelompok sasaran program ini adalah unit dokumentasi dan informasi
skala kecil yang ada di kalangan institusi pemerintah, dan juga difokuskan pada
lembaga pemerintah dan swasta yang mempunyai informasi spesifik seperti kebun
raya,
kebun binatang, dan museum.
Perbedaan ”perpustakaan biasa” dengan ”perpustakaan
digital” terlihat pada keberadaan koleksi. Koleksi digital tidak harus berada
di sebuah tempat fisik, sedangkan koleksi biasa terletak pada sebuah tempat
yang menetap, yaitu perpustakaan. Perbedaan kedua terlihat dari konsepnya.
Konsep perpustakaan digital identik dengan internet atau kompoter, sedangkan
konsep perpustakaan biasa adalah buku-buku yang terletak pada suatu tempat.
Perbedaan ketiga, perpustakaan digital bisa dinikmati pengguna dimana saja dan
kapan saja, sedangkan pada perpustakaan biasa pengguna menikmati di
perpustakaan dengan jam-jam yang telah diatur oleh kebijakan organisasi
perpusakaan.
2.
Dasar Pemikiran Perpustakaan Digital
Ada beberapa hal yang mendasari pemikiran tentang
perlunya dilakukannya digitasi perpustakaan adalah sebagai berikut:
a.
Perkembangan teknologi informasi di Komputer semakin membuka
peluang-peluang baru bagi pengembangan teknologi informasi perpustakaan yang
murah dan mudah diimplementasikan oleh perpustakaan di Indonesia. Oleh karena
itu, saat ini teknologi informasi sudah menjadi keharusan bagi perpustakaan di
Indonesia, terlebih untuk mengahadapi tuntutan kebutuhan bangsa Indonesia
sebuah masyarakat yang berbasis pengetahuan - terhadap informasi di masa
mendatang.
b)
Perpustakaan sebagai lembaga edukatif, informatif, preservatif dan
rekreatif yang diterjemahkan sebagai bagian aktifitas ilmiah, tempat
penelitian, tempat pencarian data/informasi yang otentik, tempat menyimpan,
tempat penyelenggaraan seminar dan diskusi ilmiah, tempat rekreasi edukatif,
dan kontemplatif bagi masyarakat luas. Maka perlu didukung dengan sistem
teknologi informasi masa kini dan masa yang akan datang yang sesuai kebutuhan
untuk mengakomodir aktifitas tersebut, sehingga informasi dari seluruh koleksi
yang ada dapat diakses oleh berbagai pihak yang membutuhkannya dari dalam
maupun luar negeri.
c)
Dengan fasilitas digitasi perpustakaan, maka koleksi-koleksi yang ada
dapat dibaca/dimanfaatkan oleh masyarakat luas baik di Indonesia, maupun dunia
internasional.
d)
Volume pekerjaan perpustakaan yang akan mengelola puluhan ribu hingga
ratusan ribu, bahkan bisa jutaan koleksi, dengan layanan mencakup masyarakat
sekolah (peserta didik, tenaga kependidikan, dan masyarakat luas), sehingga
perlu didukung dengan sistem otomasi yang futuristik (punya jangkauan kedepan),
sehingga selalu dapat mempertahanan layanan yang prima.
e)
Saat ini sudah banyak perpustakaan, khususnya di perguruan tinggi
dengan kemampuan dan inisiatifnya sendiri telah merintis pengembangan teknologi
informasi dengan mendigitasi perpustakaan (digital library) dan library
automation yang saat ini sudah mampu membuat Jaringan Perpustakaan Digital
Nasional (Indonesian Digital Library Network).
f)
Awal adanya perpustakaan digital di Indonesia adalah eksperimen
sekelompok orang di perpustakaan pusat Institut Teknologi Bandung (ITB). Mereka
memprakarsai Jaringan Perpustakaan Digital Indonesia bekerja sama dengan
Computer Network Research Group (CNRG) dan Knowledge Management Research Group
(KMRG). Proyek ini dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi,
menumbuhkan semangat berbagi pengetahuan antar pendidikan tinggi dan lembaga
penelitian melalui pengembangan jaringan nasional perpustakaan. Proyek kecil
ini kemudian mendapat sambutan positif dari berbagai pihak sehingga marak.
Perpustakaan yang beralamat di www.indonesiadln.org itu melibatkan seratus
lembaga lebih untuk menjadi mitra dalam penyebaran pengetahuan berupa koleksi
file digital melalui jaringan internet.
Para anggota, di antaranya Litbang Depkes, Universitas
Muhammadiyah Malang (UMM), Magister Manajemen (MM ITB), Institut Agama Islam
Negeri (IAIN), Universitas Cendrawasih (Uncen), Papua, Universitas Tadulako
(Untan), Sulawesi Tengah, dan Universitas Yarsi, Jakarta, aktif melakukan
tukar-menukar data.
3.
Keunggulan dan Kelemahan Perpustakaan Digital
Beberapa keunggulan
perpustakaan digital diantaranya adalah sebagai berikut.
Pertama, long
distance service, artinya dengan perpustakaan digital, pengguna bias menikmati
layanan sepuasnya, kapanpun dan dimanapun. Kedua, akses yang mudah. Akses
pepustakaan digital lebih mudah dibanding dengan perpustakaan konvensional,
karena pengguna tidak perlu dipusingkan dengan mencari di katalog dengan waktu
yang lama. Ketiga, murah (cost efective).
Perpustakan digital tidak memerlukan banyak biaya. Mendigitalkan koleksi
perpustakaan lebih murah dibandingkan dengan membeli buku. Keempat, mencegah
duplikasi dan plagiat. Perpustakaan digital lebih “aman”, sehingga tidak akan
mudah untuh diplagiat. Bila penyimpanan koleksi perpustakaan menggunakan format
PDF, koleksi perpustakaan hanya bisa dibaca oleh pengguna, tanpa bias
mengeditnya. Kelima, publikasi karya secara global. Dengan adanya perpustakaan
digital, karya-karya dapat dipublikasikan secara global ke seluruh dunia dengan
bantuan internet.
Selain keunggulan,
perpustakaan digital juga memiliki kelemahan. Pertama, tidak semua pengarang
mengizinkan karyanya didigitalkan. Pastinya, pengarang akan berpikirpikir
tentang royalti yang akan diterima bila karyanya didigitalkan. Kedua, masih
banyak masyarakat Indonesia yang buta akan teknologi. Apalagi, bila
perpustakaan digital ini dikembangkan dalam perpustakaan di pedesaan. Ketiga,
masih sedikit pustakawan yang belum mengerti tentang tata cara mendigitalkan
koleksi perpustakaan. Itu artinya butuh sosialisasi
dan penyuluhan tentang perpustakaan digital.
4.
Proses Perpustakaan Digital
Suryandari (2007)
mengungkapkan proses digitalisasi yang dibedakan menjadi tiga kegiatan utama,
yaitu:
a)
Scanning, yaitu proses
memindai (men-scan) dokumen dalam bentuk cetak dan mengubahnya ke dalam bentuk
berkas digital. Berkas yang dihasilkan
dalam contoh ini adalah berkas PDF.
b)
Editing, adalah proses mengolah berkas PDF di dalam komputer dengan
cara memberikan password, watermark, catatan kaki, daftar isi, hyperlink, dan
sebagainya. Kebijakan mengenai hal-hal apa saja yang perlu diedit dan
dilingdungi di dalam berkas tersebut disesuaikan dengan kebijakan yang telah
ditetapkan perpustakaan. Proses OCR (Optical Character Recognition)
dikategorikan pula ke dalam pross editing. OCR adalah sebuah proses yang
mengubah gambar menjadi teks. Sebagai contoh, jika kita memindai sebuah halaman
abstrak tesis, maka akan dihasilkan sebuah berkas PDF dalam bentuk gambar.
Artinya, berkas tersebut tidak dapat dioleh dengan program pengolahan kata.
c)
Uploading, adalah proses pengisian (input) metadata dan meng-upload
berkas dokumen tersebut ke digital library. Berkas yang di-upload adalah berkas
PDF yang berisi full text karya akhir dari mulai halaman judul hingga lampiran,
yang telah melalui proses editing. Di bagian akhir, ada dua buah server. Server
pertama yaitu sebuah server yang berhubungan dengan intranet, berisi seluruh
metadata dan full text karya akhir yang dapat diakses oleh seluruh pengguna di
dalam Local Area Network (LAN) perpustakaan yang bersangkutan. Sedangkan server
kedua adalah sebuah server yang terhubung ke internet, berisi metadata dan
abstrak karya tersebut. Pemisahan kedua server ini bertujuan untuk keamanan
data. Dengan demikian, full tekt sebuah karya hanya dapat diakses dari LAN, sedangkan
melalui internet, sebuah karya hanya dapat diakses abstraknya saja.
5.
Infrastruktur Perpustakaan Digital
Berikut ini akan
dijelaskan beberapa infrastruktur perpustakaan digital. Kebutuhan dalam
perpustakaan digital adalah perangkat keras, perangkat lunak, dan jaringan komputer
sebagai elemen-elemen penting infrastruktur sebuah perpustakaan digital.
Perangkat utama yang diperlukan dalam perpustakaan
digital adalah computer personal (PC), internet (inter-networking), dan world
wide web (WWW). Ketiga hal tersebut memungkinkan adanya perpustakaan digital.
Perpustakaan
digital juga memerlukan sistem informasi. Sucahyo dan Ruldeviyani (2007) mengungkapkan bahwa ada tiga elemen penting
yang diperlukan dalam pengembangan sistem informasi, yaitu pernagkat keras
(hardware), perangkat lunak (software), dan manusia (brainware).
Perangkat keras
yang dimaksud adalah sebagai berikut: (1) Web server, yaitu server yang akan
melayani permintaan-permintaan layanan web page dari para pengguna internet; (2)
Database server, yaitu jantung sebuah perpustakaan digital karena di sinilah keseluruhan
koleksi disimpan; (3) FTP server, yaitu untuk melakukan kirim/terima berkas melalui
jaringan komputer; (4) Mail server, yaitu server yang melayani segala sesuatu yang
berhubungan dengan surat elektronik (e-mail); (5) Printer server, yaitu untuk menerima
permintaan-permintaan pencetakan, mengatur antriannya, dan memprosesnya;
(6) Proxy server,
yaitu untuk pengaturan keamanan penggunaan internet dari pemakaipemakai yang
tidak berhak dan juga dapat digunakan untuk membatasi ke situs-situs yang tidak
diperkenankan.
Perangkat lunak yang paling banyak digunakan adalah
Apache yang bersifat open source (bebas terbuka-gratis). Untuk yang mengunakan
Microsoft, terdapat perangkat lunak untuk web server yaitu IIS (Internet
Information Sevices).
Sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam sistem
informasi ini adalah (1) Database Administrator, yaitu penanggungjawab
kelancaran basis data, (2) Network Administrator, yaitu penanggungjawab
kelancaran operasional jaringan komputer, (3) System Administrator, yaitu
penanggungjawab siapa saja yang berhak mengakses sistem, (4) Web Master, yaitu
penjaga agar website beserta seluruh halaman yang ada di dalamnya tetap
beroperasi sehingga bisa diakses oleh pengguna, dan (5) Web Designer, yaitu penanggungjawab
rancangan tampilan website sekaligus mengatus isi website.
Sumber : http://www.ipi.or.id ( diedit kembali oleh Muchlisin )
0 komentar:
Posting Komentar